Cari Blog Ini

Minggu, 08 Juli 2012

Ketika HIV-AIDS Menyerang...

Oleh : dr Teddy Hidayat, SpKJ

Indonesia adalah sengara dengan pertumbuhan HIV-AIDS tertinggi di Asia. Pada awalnya, penularan HIV terutama dipicu oleh penggunaan narkotik suntik. Namun mulai tahun 2011 kecenderungannya berubah karena sebagian besar penularan bukan lagi melalui jarum suntik, tetapi melalui heteroseksual.
Sebagian dari wanita yang tertular adalah pasangan hidup dan pasangan seksual pengguna narkotik suntik. Kondisi ini memperihatinkan karena mencegah penularan heteroseksual lebih sulit jika dibandingkan dengan penularan melalui jarum suntik. Penggunaan kondom di kalangan seks beresiko tinggi  juga masih terbatas.
Dari 2000 pasien HIV, 70% diantaranya pengguna narkotik suntik. Mereka pada umumnya datang terlambat ke sarana kesehatan. Data dari kohort di Bandung menunjukkan, 70% telah ada dalam stadium AIDS dengan median jumlah CD4 39 sel / mm3 pasa saat terdiagnosis (Wicaksana R et al, 2011).
HIV-AIDS dapat diobati dengan obat antiretro viral yang akan menghentikan replikasi virus dan mengembalikan daya tahan tubuh tingkat kesehatan penderita HIV-AIDS. Pengobatan HIV merupakan pengobatan seumur hidup dan memerlukan kepatuhan yang nyaris sempurna. Hasil dan manfaat pengobatan HIV-AIDS dapat dilihat dari penurunan viral load (penanda replikasi virus) dan peningkatan CD4 (penanda daya tahan tubuh).
Manfaat ARV dalam peningkatan CD4 dapat dilihat dari data yang dikumpulkan dari 700 pasien di Klinik Teratai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sejak tahun 2007 sampai dengan 2011 menunjukkan peningkatan CD4 akibat peningkatan ARV (Rudi Wicaksana IMPACT) (Wicaksana R et al, 2011).
Meskipun pengobatan HIV-AIDS dengan menggunakan ARV merupakan pengobatan yang ampuh untuk mencegah replikasi virus dan mengembalikan daya tahan tubuh penderita, dalam praktiknya, pengobatan ini tidak mudah karena penderita harus terus menerus mengonsumsi ARV seumur hidup dengan tingkat kepatuhan yang tinggi. Bila tingkat kepatuhan kurang dari 95%, resistansi terhadap ARV akan terjadi, dan pada akhirnya penderita mengalami kegagalan dalam terapi yang dapat berujung pada kematian.
Penelitian pada lebih dari 700 penderita HIV di Bandung menunjukkan, kepatuhan yang rendah berhubungan dengan rendahnya pengetahuan, stigma, dan motivasi penderita HIV. Ketakutan orang lain akan mengetahui status HIV-nya, tidak menyadari risiko kegagalan terapi, dan merasa bosan dengan pengobatan ARV karena merasa telah sehat merupakan alasan utama yang ditemukan.
Cara yang penting untuk mempertahankan kepatuhan selama ini dilakukan dengan memberikan konseling kepatuhan pada penderita HIV yang mendapat pengobatan ARV. (Nirmala et al - Teratai Clinic, 2010).
HIV-AIDS adalah penyakit infeksi kronis yang tidak berbeda dengan penyakit kronis lainnya, seperti darah tinggi, kolesterol, atau diabetes melitus (kencing manis). Semua penyakit kronis, termasuk HIV-AIDS, memerlukan pengobatan jangka panjang sampai seumur hidup. Jadi para penderita HIV-AIDS tidak harus malu, rendah diri atau mendapatkan stigma dan diskriminasi, baik dalam masalah sosial, pekerjaan, maupun pelayanan kesehatan.
Penderitaan baik ringan maupun berat, bahkan yang tidak dapat dihindari dalam hidup ini harus diatasi sekuat mungkin. Tetapi bila ternyata sama sekali tidak dapat diatasi atau hanya sebagian, saatnyalah mengambil sikap yang tepat atas penderitaan ini.
Pengharapan adalah keyakinan akan terjadinya perubahan yang lebih baik di masa mendatang. Kondisi kejiwaan orang yang (masih) memiliki harapan, jauh berbeda daripada orang yang (sama sekali) tidak memilikinya. 
Orang yang memiliki harapan, sikapnya optimistis dan bersemangat menyongsing masa depan. Tujuan hidupnya juga lebih jelas dan tingkah lakunya lebih terarah ke masa depan, serta tabah menghadapi keadaan saat ini yang mungkin penuh pendritaan.
Orang yang berpengharapan akan menemukan makna dalam hidupnya, sekalipun dirinya dalam penderitaan.Sebaliknya, mereka yang hilang pengharapan cenderung menjadi putus asa dan "terperangkap" dalam penderitaan saat ini dan seakan-akan tertutup pikirannya terhadap berbagai kemungkinan solusi.
Makna hidup ini terkandung dalam harapan itu sendiri, yakni dalam keyakinan adanya harapan, ketabahan menghadapi saat ini, dan sikap optimistis menghadapi masa depan. Semoga.***


Sumber : Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi Minggu, 1 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar