Cari Blog Ini

Minggu, 21 Oktober 2012

Mensucikan Diri dengan Tayamum

Islam Menghendaki Kemudahan bagi Umatnya

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Mensucikan diri atau thoharoh adalah kewajiban umat Islam. Bahkan salah satu syarat sah untuk melakukan shalat adalah suci dari hadas dan najis. Cara menghilangkan najis adalah dengan memindakan najis itu dari tubuh maupun pakaian. Sedangkan bersuci dari hadas antara lain dengan mandi, wudhu, dan tayamum.

Kamis, 18 Oktober 2012

Islam Mengajarkan Kebersihan dan Kesucian

Masih ingatkah dengan fenomena banjir yang melanda Kota Jakarta beberapa tahun silam ini? Hal ini menjadi bukti akan kurangnya kesadaran masyarakat Ibukota untuk memperhatika dan menjaga kebersihan. Hamparan sampah yang mengambang dengan bebas di atas luasnya air sungai jelas membuktikan betapa rendahnya kesadaran kita dalam menjaga alam dan kebersihan lingkungan. 
Keberadaan sampah menjadi problem besar dalam masyarakat. Kesadaran untuk menjaga kebersihan masih dirasa kurang. Ironisnya negeri ini adalah salah satu Negara yang memiliki pemeluk agama Islam terbesar di Asia Tenggara. Padahal, Islam telah menganjurkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Namun seolah-oah kita tak sadar dan tak berdaya akan perilaku yang kurang dalam menjaga kebersihan.

Rabu, 17 Oktober 2012

Makanan dan Minuman Kegemaran Rasulullah SAW

1. Kurma
Kurma adalah buah yang tumbuh dari pohon palem keluarga Arecaceae dari genus phoenix. Nama ilmiah kurma adalah dactylifera phoenix. Kurma diyakini berasal dari tanah di sekitar tepi sungai Nil dan Efrat. Sekarang pohon kurma dibudidayakan secara luas di wilayah beriklim hangat di semua benua, termasuk di Afrika, Australia dan Amerika (California).

Kurma segar memiliki daging berserat lembut dan rasanya sangat manis, seperti campuran sirup gula dan madu. Daging buah kurma berisi gula sederhana seperti fruktosa dan dekstrosa yang mudah dicerna dan cepat mengisi ulang energi tubuh. Karena karakteristik tersebut, kurma sangat cocok untuk mengawali berbuka puasa.

Selasa, 16 Oktober 2012

Desa Budaya, Bingkai Kearifan Lokal

Desa budaya sampai saat ini masih bisa kita temui di berbagai penjuru tanah air, termasuk di Jawa Barat, sebut saja Kampung Naga (Tasikmalaya), Kampung Kuta (Ciamis), dan Kampung Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi). Tiwi Purwitasari, peneliti di Balai Arkeologi Bandung menyatakan bahwa komunitas yang masih teguh melaksanakan berbagai upacara adat dan tradisi, biasa disebut dengan masyarakat budaya. Sementara desa tempat tinggal mereka disebut desa budaya. (Tiwi Purwitasari, 2010: 119).

Sejalan dengan pemikiran Melville J Herkovits dan Bronislow Malinowski yang menggagas teori mengenai Cultural Determinism (Determinasi Budaya). Dalam teorinya, Melville J Herkovits dan Bronislow Malinowski mengatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh adanya kebudayaan yang dimiliki masyarakat tersebut. Pernyataan ini dipertegas oleh Soejono Soekamto yang menyatakan bahwa masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai bingkai dari potret budaya tersebut. (Soejono Soekamto, 1987: 154).

Minggu, 07 Oktober 2012

Stigma Teroris

Hari-hari terakhir ini, sebutan "rohis" sering terdengar di kalangan masyarakat. Sejumlah siswa sekolah pun ada yang memelasatkan kata "rohis" menjadi "roh Iis". Bahkan organisasi yang anggotanya sebagian besar mantan aktivis "rohis", yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Bandung, menggelar diskusi bertema "Rohis". Pembicaranya dari berbagai kalangan, termasuk unsur aparat keamanan. Lalu kenapa "rohis" jadu buah bibir?

Awalnya, pada pekan pertama September 2012, sebuah stasiun televisi swasta nasional menayangkan diskusi yang membahas tema "Rohis" dalam konteks isu terorisme. Konon, ada pengamat yang menyimpulkan keterkaitan antara kegiatan di "Rohis" dan perekrutan teroris muda. Yang menarik adalah mencermati pola "penarikan" kesimpulan sang peneliti tersebut.

Lima Pilar Politik Sunda

Oleh: Atep Kurnia 
Peneliti Literasi di Pusat Studi Sunda (PSS)

Karuhun Sunda telah menyatakan dengan tegas mengenai politik. Di dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK, Saleh Danasasmita, dkk., 1987), mereka menyatakan, "Nya mana dikangkenkeun ku nu mawa bumi. Ya mangupati pra rama, resi, prabu, disri mwang tarahan" (Ya, diibaratkan oleh penguasa bumi. Ya, menjelma menjadi para rama, resi, ratu, disi dan tarahan). SSKK bukan satu-satunya yang menegaskan perihal pilar politik Sunda, melainkan ada beberapa. Kita dapat menelusurinya dari naskah Cerita Parahyangan (CP, Undang A Darsa & Edi S Ekadjati, 2003), Fragmen Carita Parahyangan (FCP, Undang A Darsa & Edi S Ekadjati, 2003), dan Sanghyang Sasana Mahaguru (SSMG, Aditia Gunawan, 2009).

Menikmati Segarnya Air Curug Cijalu

 Jawa Barat sebagai privinsi pendukung ibu kota metropolitan mempunyai banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Apabila wisatawan asing atau lokal berkeinginan menikmati pemandangan alam dan sejuknya embusan air yang jatuh dari atas tebing mengempas bebatuan di bawanya, kita bisa mengunjungi salah satu objek wisata yang berada di Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang.

Curug Cijalu, nama air terjun setinggi 70 m yang berlokasi di hutan blok Cijengkol RPH Tangkubanparahu Utara dengan luas 8 ha ini dapat kita kunjungi dari kota Subang sekitar 37 km ke arah selatan. Dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi pilihan warga Kota Subang untuk melepaskan kepenatannya. Menjadi pilihan warga luar kota untuk menikmati alam yang tidak ditemukan di tempat asalnya.